Berapa Modal Minimal yang Realistis untuk Mulai Beli Saham Pertama Kali?

Pertanyaan "Berapa modal minimal yang realistis untuk mulai beli saham pertama kali?" pasti sering menghantui pikiran. Saya juga dulu ngalamin waktu masih di Pontianak. Rasanya ada tembok besar yang bikin ragu—apakah harus punya uang jutaan dulu? Atau cukup pakai uang jajan? Jawaban singkatnya: modal minimal yang realistis untuk membeli saham pertama kali di Indonesia sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000. Itu sudah cukup buat beli 1 lot saham (100 lembar) di harga terendah, plus biaya transaksi. Tapi, jangan buru-buru deposit uang dulu. Ada beberapa hal yang perlu kamu pahami biar modal kecil itu nggak habis sia-sia.
Kenapa Modal Minimal Bisa Serendah Itu?
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), aturan mainnya sederhana: kamu wajib beli saham dalam satuan lot, di mana 1 lot = 100 lembar saham. Jadi, modal minimal kamu ditentukan oleh harga per lembar saham dikali 100. Untungnya, ada banyak saham dengan harga sangat murah, di kisaran Rp50 hingga Rp200 per lembar. Contohnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) pada pertengahan 2026 berada di sekitar Rp4.000 per lembar, artinya 1 lot-nya Rp400.000. Tapi, kalau kamu pilih saham PT Wijaya Karya (WIKA) yang harganya sekitar Rp200 per lembar, modal untuk 1 lot cuma Rp20.000.
Nah, kenapa saya bilang realistis Rp100.000–Rp200.000? Karena selain harga saham, ada biaya tambahan yang wajib kamu hitung. Biaya transaksi di sekuritas biasanya sekitar 0,15%–0,35% dari nilai transaksi untuk pembelian, dan 0,25%–0,45% untuk penjualan. Ada juga pajak final 0,1% untuk penjualan. Jadi, kalau kamu beli 1 lot saham seharga Rp50.000, biaya transaksinya mungkin cuma Rp100–Rp200. Tapi, banyak sekuritas menerapkan minimum fee, misalnya Rp10.000 per transaksi. Ujungnya, kalau modalmu cuma Rp50.000, biaya transaksi bisa memakan 20% dari modalmu. Itu nggak efisien.
Saya pribadi menyarankan modal awal Rp150.000. Dengan angka itu, kamu bisa beli 1 lot saham di harga Rp1.000–Rp1.500 per lembar, setelah dipotong biaya transaksi. Contoh nyata: pada Januari 2026, saham PT Telkom Indonesia (TLKM) dihargai sekitar Rp3.000 per lembar. Untuk 1 lot, kamu butuh Rp300.000. Tapi, kalau kamu pilih saham PT Bumi Resources (BUMI) yang harganya Rp200 per lembar, modal Rp20.000 sudah cukup untuk 1 lot. Namun, ingat—saham murah belum tentu bagus. Riset fundamental tetap penting.
Bagaimana Cara Memulainya dengan Modal Kecil?
Langkah pertama adalah buka rekening efek di perusahaan sekuritas yang terdaftar di OJK. Sekarang, banyak sekuritas nawarin pembukaan rekening online dengan minimal deposit Rp100.000. Contohnya, sekuritas seperti Stockbit, Mirae Asset, atau Indo Premier Sekuritas. Prosesnya gampang: KTP, NPWP (kalau ada), dan selfie. Setelah rekening aktif, kamu bisa transfer dana ke rekening RDN (Rekening Dana Nasabah) yang udah disediain.
Setelah dana masuk, jangan langsung beli saham sembarangan. Gunakan fitur screening di aplikasi sekuritas buat cari saham dengan harga rendah dan fundamental bagus. Saya biasanya filter saham dengan PER (Price to Earning Ratio) di bawah 15 dan PBV (Price to Book Value) di bawah 2. Contoh: saham PT Astra International (ASII) pada Maret 2026 punya PER 12 dan PBV 1,5, dengan harga Rp5.000 per lembar. Modal untuk 1 lot Rp500.000—masih masuk akal buat pemula dengan modal Rp500.000.
Tapi, kalau modalmu cuma Rp150.000, pilih saham di kisaran Rp1.000–Rp1.500 per lembar. Contohnya, saham PT Adaro Energy (ADRO) pada April 2026 di harga Rp1.200 per lembar. Beli 1 lot = Rp120.000. Sisanya Rp30.000 buat biaya transaksi. Jangan lupa, setelah beli, pantau terus pergerakannya. Jangan panik kalau harga turun 5% dalam sehari—itu normal. ## Apa Risiko Memulai dengan Modal Kecil.
Risiko terbesar adalah biaya transaksi yang nggak proporsional. Seperti saya sebut, kalau modalmu Rp50.000 dan biaya transaksi Rp10.000, kamu udah kehilangan 20% modal cuma buat beli. Belum lagi kalau kamu jual, ada biaya lagi. Ujungnya, kamu bisa rugi meskipun harga saham naik. Contoh: beli saham Rp50.000, biaya beli Rp10.000, total modal Rp60.000. Jual di harga Rp55.000, biaya jual Rp10.000, total diterima Rp45.000. Rugi bersih Rp15.000, padahal harga saham naik 10%. Risiko kedua adalah likuiditas. Saham dengan harga sangat murah (di bawah Rp100) seringkali punya volume transaksi rendah. Artinya, kalau kamu mau jual, mungkin nggak ada pembeli. Kamu bisa terjebak megang saham yang nggak laku. Contoh: saham PT Pelayaran Tamarin (TAMU) pada 2025 harganya Rp50 per lembar, tapi volume transaksi harian cuma 10.000 lot. Kalau kamu punya 1 lot, butuh waktu berminggu-minggu buat jual Cerita dari sudut lain di investasi aman.
Risiko ketiga adalah psikologis. Dengan modal kecil, kamu cenderung pengen cepet untung. Akibatnya, kamu sering beli dan jual dalam waktu singkat (trading). Padahal, buat pemula, strategi investasi jangka panjang lebih aman. Saya dulu pernah tergoda sama saham gorengan yang naik 20% dalam sehari, tapi akhirnya jatuh 30% keesokan harinya. Rugi besar.
Berapa Biaya Tambahan yang Perlu Diperhitungkan?
Selain biaya transaksi, ada biaya kustodi yang dikenakan bulanan atau tahunan oleh sekuritas. Biaya ini biasanya Rp10.000–Rp30.000 per bulan, tergantung kebijakan sekuritas. Kalau modalmu cuma Rp100.000, biaya kustodi Rp20.000 per bulan bisa menggerogoti modalmu dalam 5 bulan. Untungnya, banyak sekuritas yang membebaskan biaya kustodi buat saldo di bawah Rp1 juta. Jadi, pilih sekuritas yang ramah pemula.
Ada juga biaya pajak final atas dividen. Dividen saham dikenakan pajak 10% (final) buat pemilik saham di bursa. Tapi, buat pemula dengan modal kecil, dividen biasanya sangat kecil—mungkin Rp5.000–Rp20.000 per tahun. Jadi, jangan terlalu berharap pada dividen.
Terakhir, biaya riset. Kalau kamu serius, mungkin perlu berlangganan aplikasi analisis saham kayak Stockbit Premium atau RTI Business. Biayanya Rp50.000–Rp100.000 per bulan. Tapi, buat pemula, cukup gunakan fitur gratis di aplikasi sekuritas atau baca laporan keuangan perusahaan di website BEI.
Contoh Perhitungan Modal Nyata untuk Pemula
Mari kita simulasi. Kamu punya modal Rp200.000. Pilih saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF) yang pada Juni 2026 dihargai Rp6.000 per lembar. 1 lot = Rp600.000—terlalu mahal. Ganti ke saham PT Bumi Serpong Damai (BSDE) di harga Rp1.000 per lembar. 1 lot = Rp100.000. Biaya transaksi beli (asumsi 0,2%) = Rp200. Tapi, minimum fee Rp10.000. Jadi total biaya beli Rp10.000. Modal yang terpakai: Rp100.000 + Rp10.000 = Rp110.000. Sisa modal Rp90.000. Setelah sebulan, harga BSDE naik ke Rp1.100. Kamu jual 1 lot. Hasil jual = Rp110.000. Biaya transaksi jual (0,3%) = Rp330, tapi minimum fee Rp10.000. Total biaya jual Rp10.000. Pajak penjualan 0,1% = Rp110. Total diterima = Rp110.000 - Rp10.000 - Rp110 = Rp99.890.000. Kamu rugi Rp10.110, padahal harga saham naik 10%. Ini karena biaya transaksi minimum. Solusinya: beli saham dengan nilai transaksi lebih besar biar biaya transaksi proporsional. Misalnya, kalau kamu beli 2 lot BSDE (Rp200.000), biaya transaksi tetap Rp10.000, jadi lebih efisien. Tapi, butuh modal total Rp210.000. Jadi, modal minimal yang realistis adalah Rp200.000–Rp300.000 biar biaya transaksi nggak memakan keuntungan. Nah, sekarang kamu udah tahu bahwa modal minimal yang realistis buat mulai beli saham pertama kali sekitar Rp100.000–Rp200.000, tapi lebih aman di Rp200.000–Rp300.000. Jangan lupa pilih sekuritas dengan biaya transaksi rendah dan bebas biaya kustodi. Mulailah dengan saham berfundamental baik, bukan saham murah tanpa riset. Kalau saya pribadi, dulu memulai dengan Rp250.000 dan beli saham PT Bank Mandiri (BMRI) di harga Rp3.000 per lembar—tapi itu cerita lain.
Selengkapnya di: sumber resmi.
Untuk konteks lebih: sumber resmi
